Bagi Para santri Pondok Yatim & Dhuafa Ar-Raudhoh, malam jum’at merupakan malam yang cukup istimewa bagi para santri. Hal ini karena suasana syahdu dan hangat mendominasi mesjid atau mushola yang digunakan oleh para santri. Tak hanya berkumpul, pada malam Jum’at biasanya dilaksanakan kegiatan Yaasiinan berjamaah.
Pembahasan Kegiatan Yaasiinan
Yaasiinan di negara Indonesia pertama kali muncul ketika masa penyebaran ajaran oleh para wali songo. Kegiatan ini merupakan bentuk akulturasi budaya lokal yang ada dengan ajaran islam yang disebarkan oleh para wali tersebut. Kegiatan ini menggantikan keberadaan ritual animisme (kepercayaan kepada benda yang memiliki roh) dan ritual dinamisme (kepercayaan kepada kekuatan yang melekat pada benda yang dianggap keramat). Bentuk inti akulturasinya yakni mengganti mantra dengan do’a yang dipanjatkan.
Yaasiinan Berjamaah di Pondok
Salah satu tujuannya yakni sebagai ikhtiar meraih keberkahan dan mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Penasaran dengan tradisi yaasiinan di Pondok Yatim & Dhuafa Ar–Raudhoh? Yuk simak penjelasan alurnya:
- Setelah mendirikan sholat maghrib berjama’ah, para santri berdzikir, berdo’a, bersalaman dan mendirikan sholat shunnah rawatib ba’da Maghrib.
- Para santri dan Para pengurus pondok duduk melingkar. Tentunya santri putra dan santri putri menyesuaikan agar tidak mengurangi takzim terhadap syari’at islam. Setelah itu masing–masing (santri maupun pengurus) sudah siap dengan mushaf Al-qur’annya.
- Salam pembuka dan tawashul dilantunkan oleh perwakilan pengurus pondok atau pimpinan pondok (kondisional). Tawashul biasanya ditujukan untuk nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat, tabi’in tabi’at,orang tua dan guru yang sudah wafat. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan surat Al Fatihah dan surat Yaasiin. Bagi santri putri yang sedang tidak sholat karena uudzur syar’i tetap mengikuti dengan ketentuan membaca dzikir (sebagai pengganti lantunan surat Yaasiin) dan tempat duduknya tetap berada di lingkup yang sama namun berbeda posisi dengan tujuan menghormati kesucian mesjid/ mushola.
- Surat Yaasiin dilantunkan dengan tartil (sesuai dengan kaidah ilmu tajwid), dan menikmati setiap lafaz yang dilantunkan agar khusyuk serta kondusif. Setelah surat Yaasiin selesai dilantunkan, maka perwakilan pengurus/ pimpinan pondok (kondisional) melantunkan do’a yang diaamiinkan oleh para santri dan para pengurus pondok yang lainnya.
- Setelah itu, acara ditutup dan biasanya para santri serta pengurus pondok menikmati hidangan ringan yang sebelumnya sudah disiapkan sebagai bentuk kebersamaan.
Adab Kegiatan Yaasiinan
Yaasiinan ini mengandung penghayatan terhadap nilai–nilai keislaman sehingga terdapat beberapa adab sebagai bentuk penghormatan dan takzim. Berikut ini adalah penjelasannya:
- Niat yang ikhlas dan mengharap ridho Alloh SWT, hal ini menjadi poin penting karena merupakan ruh dalam melaksanakan ibadah dan kebiasaan ( tradisi) yang bernilai ibadah.
- Pastikan pakaian dan fisik dalam keadaan suci,hal ini untuk menjaga kekhusyuan dan merupakan sebuah tanda kesiapan spiritual.
- Berpakaian sesuai syar’i, biasanya santri putri sudah rapih dan sesuai karena pada saat sholat magrib berjama’ah mengenakan mukena. Santri putra pun demikian karena pakaian yang dikenakan ketika tradisi Yaasiinan adalah pakaian yang dikenakan ketika sholat maghrib berjama’ah.
- Duduk dengan nyaman dan tidak mengganggu yang lain. Hindari berbicara kurang penting untuk menciptakan suasana khusyuk dan kondusif.
- Hindari makan atau minum terkecuali kondisinya mengharuskan untuk minum ( misalnya ) karena sedang batuk atau kurang nyaman tenggorokan.






