Akhir pekan ini, para santri di Pondok Yatim & Dhuafa Ar-Raudhoh mengisi hari liburnya dengan membuat kerajinan tangan. Kerajinan kali ini memanfaatkan kain tidak layak pakai atau kain bekas. Kain tersebut diolah menjadi barang yang mempunyai nilai manfaat. Kerajinan tersebut bernama Sapu Tangan Penahan Panas, yang nantinya digunakan untuk memudahkan keperluan mengolah makanan.
Mengenal Sapu Tangan Penahan Panas
Sapu tangan penahan panas adalah barang yang mempunyai fungsi untuk melindungi tangan agar tidak terluka akibat hantaran panas kompor, tungku, alat bakar makanan maupun alat pemanggang. Selain itu, barang ini berfungsi sebagai pelindung meja berbahan kaca agar tidak pecah. Caranya letakkan di bawah permukaan meja tersebut, namun sifatnya sementara karena lama kelamaan kaca tersebut akan memuai dan berakhir pecah. Tentunya kegiatan ini sekaligus melatih kreatifitas dan keahlian santri dalam memanfaatkan skill terhadap barang bekas. Diharapkan dengan terbiasanya kegiatan ini dapat mengurangi limbah atau barang bekas serta meningkatkan skill dan kemampuan beradaptasi. Sehingga senantiasa santri terbiasa untuk melestarikan lingkungan.
Fungsi & Manfaat
Setelah mengetahui uraian singkat mengenai penjelasan sapu tangan penahan panas, berikut ini adalah penjelasan mengenai fungsi dan manfaatnya:
- Mendaur ulang sampah. Mengubah sisa atau limbah kain menjadi barang yang mempunyai nilai pakai, ramah terhadap lingkungan sekitar. Serta tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk membeli sapu tangan penahan panas.
- Memberi kesan variatif. Berbahan kain perca atau limbah kain membuat tampilan sapu tangan penahan panas ini cantik dan lebih unik karena coraknya lebih banyak berbeda satu sama lain.
- Meningkatkan efisiensi dana. Jika dibuat secara berkelanjutan maka menjadi salah satu solusi untuk menggunakan dana dengan seefisien mungkin. Sehingga dananya dapat dialokasikan ke anggaran yang lebih urgent.
Alur Pembuatan
Setelah mengetahui fungsi dan manfaat dari kerajinan sapu tangan penahan panas tersebut, berikut ini adalah alat dan bahan serta alur pembuatannya:
Alat dan Bahan
- Kain yang dipilih tidak sembarangan, akan tetapi memakai kain berbahan katun agar tidak mudah terbakar dan tidak licin sehingga tidak membahayakan saat digunakan.
- Alat pemotong ( berupa gunting atau pisau cutter ), kardus yang telah dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Kardus ini berfungsi sebagai media menganyam kain percanya.
Proses Pembuatan
- Santri berkumpul di aula belajar pada pukul 09.00, setelah itu para pengurus menyiapkan alat dan bahan serta mengondisikan agar suasana yang tercipta kondusif namun tetap menyenangkan. Para santri dibagi kelompok terpisah (santriwan dan santriwati).
- Potong – potong kain perca dengan ukuran sama panjang dan sama besar lalu disusun setengah vertikal dan setengah horizontal.
- Setelah itu, lakukan anyam bersilang satu dari arah atas dan satu dari arah bawah secara bergantian sampai membentuk ukuran yang diinginkan. Adapun bentuk pola dasarnya yaitu persegi, anyaman yang dibuat disarankan tebal dan jaraknya berdekatan agar dapat menahan panas secara optimal. Dalam proses menganyamnya, boleh dibentuk menjadi dua lapis lalu digabungkan agar lebih cepat mencapai ketebalan yang diinginkan.
- Pada poin sebelumnya dijelaskan bahwa pola dasarnya persegi, untuk mengunci rapat agar anyaman tidak terlepas atau putus maka setiap pinggirannya dilipat atau dijahit rapi menggunakan jarum dan benang jahit ( jika alatnya tersedia). Jika tidak tersedia maka boleh menggunakan opsi pertama.
Hal penting lainnya Sapu tangan penahan panas ini dapat digunakan untuk suhu panas yang wajar, karena terdapat pula oven dengan suhu yang sangat panas dan berisiko terkena luka bakar jika mengandalkan sapu tangan penahan panas dari kain perca ini. Selain itu, tidak disarankan digunakan saat sapu tangan penahan panas ini dalam kondisi basah karena lebih cepat menghantarkan panas sehingga membahayakan tangan.






