Our Blog

Ar-Raudhoh-Menghafal-Qur'an

Menghafal Qur’an: Memetik Kemuliaan dari Al-Qur’an

Salah satu program utama yang wajib diikuti oleh seluruh santri Pondok Yatim & Dhuafa Ar–Raudhoh adalah menghafal Al-qur’an. Mengapa demikian? karena kelak  Alloh SWT akan memberikan kemuliaan bagi seorang muslim yang berkenan menghafal Al-qur’an. Prinsip sederhananya, jikalau kemuliaan tersebut tidak didapatkan ketika berada di alam dunia ini, semoga kelak di alam akhirat Alloh SWT memberikan kemuliaan tersebut. Selain itu, menghafal Al-qur’an mampu merecharge iman yang masih naik turun.

Proses Menghafal Qur’an

Menghafal Al-qur’an tidak sama persis dengan menghafal materi yang lain. Bukan hanya bacaannya yang berbeda, akan tetapi kesiapan spiritual sangat mempengaruhi setiap tahapan dalam proses menghafal. Keputusan menjadi seorang penghafal qur’an tidak selesai pada saat mampu menyelesaikan seluruh hafalan ayat–ayatnya, akan tetapi menjadikan Alquran sebagai teman selama hidup di dunia ini. Selain itu, hafalan Al-qur’an akan mudah hilang karena hal – hal berikut ini :

Kurangnya niat dan Motivasi

    Niatkan menghafal qur’an sebagai wujud syukur atas anugerah dari Alloh SWT. Adapun bentuknya bisa berupa panca indera yang masih normal atau organ lainnya yang masih berfungsi dengan baik. Ketika mulai patah semangat atau malas menghafal, maka bisa mencari ayat, penggalan hadits atau kisah teladan para penghafal Al-qur’an yang mampu membangkitkan kembali semangat menghafal.

    Lingkungan yang tidak mendukung

    Terkadang, sudut pandang dan karakter yang melekat pada orang–orang di sekitar sangat mempengaruhi terbentuknya jati diri seseorang.  Apabila menjadi seorang penghafal Al-qur’an menjadi sebuah keputusan dari sekian banyak pilihan dalam hidup, maka latihlah agar diri sendiri tidak mudah tergiur terhadap godaan dan siap menghadapi tantangan dalam menghafal Al-qur’an.

    Terjebak dalam kemaksiatan

    Alquran bersifat suci karena berisi firman-firman Alloh SWT. Apabila di dalam hati, pikiran, ucapan dan perbuatan masih tergolong maksiat maka perlahan tapi pasti hafalan Al-qur’an akan meninggalkan penghafalnya. Berusaha menjauhi dan bertaubat dari maksiat akan membuat hafalan Al-qur’an tetap melekat di dalam pikiran dan hati.

    Malas bermuroja’ah

    Muroja’ah dimaknai sebagai menghafal kembali hafalan yang telah disetorkan. Kegiatan ini menjadi hal yang sangat penting bagi seorang penghafal Al-qur’an. Surat Al–Fatihah sudah melekat pada mayoritas pikiran umat muslim baik bacaan maupun penulisannya. Mengapa demikian ? karena dalam sehari semalam minimal dibaca 17 kali yaitu pada saat mendirikan sholat fardhu. Begitupun dengan surat lainnya, semakin sering diulang menghafalnya maka tidak akan cepat hilang dari pikiran kita.

    Menghafal di Pondok dan Teknik Muroja’ah

    Di Pondok Yatim & Dhuafa Ar–Raudhoh, para santri diberi target dalam menghafal Al-qur’an. Targetnya dalam sehari menghafal satu ayat (minimal). Tidak ada batasan maksimalnya sebatas mampu mempertanggungjawabkan ayat–ayat yang sudah di hafal. Salah satu cara dalam mempertanggungjawabkannya adalah dengan menjaga diri dari hal–hal yang mengakibatkan hafalan cepat hilang.  Membaca ayat–ayat yang sudah dihafal pada saat sholat dapat menjadi waktu alternatif untuk mengulang ayat–ayat yang sudah di hafal. Selain itu, terdapat pula teknik–teknik lainnya yang biasa dipakai pada saat muroja’ah. Berikut ini adalah penjelasannya:

    Mempunyai Partner

      Muroja’ah secara individu bagi sebagian santri membuat mereka cepat bosan. Maka dari itu, mempunyai Partner dalam muroja’ah menjadi salah satu solusi agar muroja’ah tetap menyenangkan dan tetap semangat. Menyimak dan menyetorkan hafalan secara bergantian adalah dua kegiatan yang terdapat di dalam muroja’ah bersama partner.

      Memilih suasana yang nyaman

      Suasana sunyi menjadi pilihan bagi sebagian santri. Namun tidak menutup kemungkinan terdapat pula santri yang tidak terganggu dengan suasana yang cukup bising pada saat dia muroja’ah. Maka dari itu, hanya perlu menyesuaikan diri agar kegiatan muroja’ah tetap berjalan lancar.

      Membuat target individu

      Target ini berupa target harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan. Namun yang tidak kalah penting adalah memulai ketika target telah ditentukan. Buatlah catatan pencapaiannya agar target muroja’ah terlihat dengan jelas. Akhir kata, jika setiap hari kita mampu merespon setiap notifikasi yang masuk ke dalam ponsel, semoga kita pun mampu menjadikan kegiatan menghafal Al-qur’an sebagai salah satu rutinitas yang utama.

      Post A Comment

      Leave a Reply

      Your email address will not be published. Required fields are marked *