Salah satu tradisi yang ada di Pondok Yatim & Dhuafa Ar–Raudhoh adalah Nyate Bersama. Tradisi ini dilaksanakan setelah selesai implementasi program penyaluran Daging qurban ke pelosok Desa. Adapun pihak yang terlibat yaitu para santri dan para pengurus Kegiatan Nyate Bersama ini dilaksanakan pada malam hari ketika jadwal pengajian ba’da isya libur. Penjelasan berikut ini akan menggambarkan keseruan tradisi nyate bersama tersebut.
Perencanaan dan Pengadaan bahan nyate bersama
Biasanya dikondisikan oleh para pengurus, lalu di koordinasikan kepada pimpinan pondok. Bahan baku kegiatan nyate bersama tentunya sudah tersedia yaitu daging sapi dan daging kambing. Daging–daging tersebut berasal dari hak atau jatah daging qurbanya para santri dan pengurus pondok. Selain bahan baku, terdapat pula bahan dan alat membuat hidangan sate tersebut berupa peralatan masak (yang kira–kira diperlukan), arang, alat untuk memanggang sate & alat untuk menyalakannya, tusuk sate, kipas (bisa kipas angin elektrik atau kertas berbahan tebal yang tidak terpakai), dan bumbu yang diperlukan saat sate selesai dihidangkan berupa bumbu kacang yang diseduh dan kecap atau dapat berupa kecap, cabai kecil dan bawang merah yang ditumbuk dan diberi air secukupnya.
Pembagian tugas mengolah daging
Dalam pelaksanaannya, kemampuan santri tetap diperhatikan walaupun awalnya berawal dari mencoba agar semua santri mampu melakukannya. Beberapa tahap pengolahannya yaitu membersihkan daging, memotong daging menjadi ukuran kecil, membuat bumbu marinasi sate. Bumbu marinasi yang digunakan yaitu garam dan bawang putih yang dicampur air matang. Biasanya, daging di beri bumbu marinasi bisa sebelum atau setelah di masukan ke dalam tusukan sate. Setelah itu, daging dipanggang di bara api sedang. Agar aroma daging wangi dan rasanya lebih nikmat, daging yang sedang di panggang di olesi margarin. Alat yang dipakai untuk mengoles yaitu kuas kecil. Tahap kedua ini tetap di bawah pantauan para pengurus pondok, tujuannya meminimalisir terjadi hal–hal negatif yang tidak diinginkan.
Menyiapkan hidangan pendamping sate
Dalam praktiknya, bisa bersamaan dengan tahap mengolah daging yang akan dibuat sate ataupun sebelum proses pengolahan (daging untuk sate) dilakukan. Hidangan pendamping sate tersebut berupa nasi putih hangat, air minum dan kerupuk.
Bersiap menikmati hidangan sate
Setelah sate matang dan hidangan pendampingnya tersedia, para santri menyiapkan diri dan tempat yang akan digunakan untuk makan sate bersama. Tempat yang digunakan yaitu halaman asrama. Para santri tetap menjunjung sikap tertib agar memberikan suasana nyaman. Sebelum menikmati sate, tak lupa mencuci tangan dan berdo’a terlebih dahulu agar memperoleh keberkahan sehingga hidangan yang disantap menjadi energi dan gizi bagi tubuh
Membersihkan peralatan mengolah dan tempat menikmati sate
Setelah mengolah dan menikmati sate selesai dilaksanakan, rangkaian terakhir yaitu membersihkan dan merapikan peralatan dan tempat yang digunakan untuk nyate bersama. Para santri tetap terlibat agar mereka belajar bertanggung jawab dan senantiasa menjunjung sifat peduli terhadap kebersihan
Kesimpulan
Ada ungkapan yang berbunyi “ Jika seluruh kebersamaan selama tinggal di Pondok direkam, maka tidak ada perangkat yang mampu menampungnya”. Semoga melalui kegiatan Nyate Bersama mampu meningkatkan kebersamaan antar santri dan menjadi cerita hidup yang kelak dapat dikenang ketika mereka ( para santri ) melanjutkan hidup di masa yang akan datang.






