Ketika berada di suatu tempat atau keramaian, secara spontan maupun otomatis salah satu panca indera yakni mata memandang atau mengamati sekitar. Objek yang dipandang atau diamati biasanya berupa wujud bangunan atau orang–orang yang berlalu lalang dengan segala kesibukannya. Sebagai seorang muslim, kita diperintahkan untuk tetap berpedoman pada tuntutannya yakni ajaran agama islam. Agar tidak terjadi hal–hal yang tidak diinginkan bahkan merugikan salah satu atau kedua belah pihak. Islam pun mengajarkan larangan melihat wanita tanpa alasan yang syar’i atau alasan yang dapat diterima secara agama. Berikut penjelasan nya:
Hadits tentang Larangan melihat Wanita tanpa alasan yang syar’i
Dari Ummu Salamah ra., dia berkata: Aku sedang berada dekat Rasulullah SAW di sana juga ada Maimunah, kemudian Ibnu Ummu Maktum datang. Hal itu terjadi setelah turunnya ayat perintah hijab. Rasulullah SAW bersabda: “ Pakailah hijab kalian berdua.” Kami menjawab: “ Wahai Rasulullah, bukankah ia adalah seorang yang buta sehingga tidak mengetahui dan melihat keberadaan kami?” Beliau bersabda:” Apakah kalian juga buta? Bukankah kalian kalian dapat melihatnya?” (HR Abu Daud dan Tirmidzi) Ia mengatakan bahwa hadis ini adalah hadis hasan sahih.
Penjelasan Hadits
Hadits tersebut menjelaskan tentang perintah berhijab kepada para wanita. Pada saat itu datang seorang sahabat Ratsulullah SAW yang bernama Abdullah bin Ummu Maktum, sedangkan Ummu Salamah dan Maimunah dalam keadaan tidak memakai hijab. Rasulullah SAW pun segera memerintahkan kepada keduanya agar mengenakan hijab. Kemudian Ummu Salamah dan Maimunah merasa heran mengapa Rasulullah SAW memerintah seperti itu. Mengingat Abdullah Bin Ummu Maktum mempunyai keterbatasan dalam penglihatannya yakni buta. Rasulullah SAW pun tetap menegaskan agar keduanya tetap mengenakan hijab. Karena pada hakikatnya Abdullah bin Ummu Maktum tidak termasuk mahram Ummu Salamah dan Maimunah.
Setelah dicerna, ternyata perintah tersebut mempunyai hikmah bagi wanita. Berikut ini adalah penjelasannya:
Identitas sebagai Muslimah
Biasanya, seseorang akan mudah menebak identitasnya dari cara dia berpakaian. Terlepas dari baik atau buruknya penilaian orang lain, semoga hijab tidak berfungsi sebagai identitas akan tetapi sebagai bentuk ketaatan kita kepada Alloh SWT.
Melindungi kehormatan diri
Rasulullah SAW begitu memuliakan wanita. Sehingga ia (para wanita) diangkat martabatnya bahkan diperbolehkan mengukir prestasi gemilang di jenjang pendidikan maupun karir asal tidak melanggar kodratnya. Sebagai Muslimah, pada saat menjalankan peran (mengenyam pendidikan/ berkarir) maka mengenakan pakaian yang menutup seluruh anggota tubuh. Kecuali yang diperbolehkan terlihat (menurut beberapa imam madzhab fikih) dapat dimulai secara bertahap jika merasa keberatan (langsung menutup aurat dengan sempurna).
Mencegah Fitnah
Pada dasarnya, laki–laki tidak akan datang lalu tiba–tiba berbuat keji yang dapat merugikan dirinya dan wanita. Jika seorang wanita mampu menjaga dirinya dengan berpakaian sesuai syariat islam dan berperilaku baik, maka laki–laki pun pada akhirnya merasa malu dan mengurungkan niat jahatnya.
Jika berhijab sudah berusaha dipraktikkan, ada kemungkinan muncul tantangan yang menguji kekuatan iman seorang wanita. Apa sajakah tantangan–tantangan tersebut? Berikut ini adalah penjelasannya:
Cuaca dan Kelembapan Udara
Indonesia termasuk negara yang beriklim tropis sehingga berhijab dapat menghadirkan kenyamanan ketika cuaca stabil dan udara sejuk. Namun ada kemungkinan membuat tubuh terasa gerah jika cuaca sedang panas. Maka dari itu, memilih bahan hijab dapat menjadi pertimbangan agar tetap nyaman berhijab.
Trend dalam berpakaian
Berbagai mode atau trend dalam berpakaian dari masa ke masa mengalami perubahan ke arah modern. Mengenakan hijab bukan penghalang mengikuti perubahan mode berpakaian, justru dapat menjadi salah satu syiar agama islam.






