Menempuh perjalanan menuju suatu tempat merupakan hal yang pada umumnya dilakukan seseorang. Ya, urusan pekerjaan, shilaturahim ke keluarga/kerabat/sahabat, berlibur, mendaki gunung dan lain – lain menjadi tujuan seseorang melakukan suatu perjalanan. Nah, tahukah anda? Sebagai seorang muslim kita dianjurkan untuk mengikuti tuntunannya agar senantiasa berada dalam kebaikan dan ridho Alloh SWT. Adapun islam mengajarkan mengenai tatacara bepergian yang baik melalui kitab riyadhus shalihin. Mari kita kupas tata cara bepergian dalam islam!.
Hadits tentang Tatacara Bepergian
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “ Apabila kalian sedang bepergian dan melewati tanah subur, maka berilah kesempatan kepada unta untuk memakan rumputnya. Dan apabila kalian sedang bepergian melewati tanah yang tandus, maka percepatlah di dalam berjalan dan kejarlah jangan sampai unta itu kehabisan tenaga. Apabila kalian berhenti pada waktu malam, maka janganlah berhenti (mendirikan kemah) di tengah jalan karena sesungguhnya itu adalah jalan binatang dan tempat yang sangat berbahaya pada waktu malam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Penjelasan Hadits tentang Tatacara Bepergian
Jika diamati dan difahami, hadits diatas merujuk kepada kebiasaan orang–orang pada zaman Rasulullah SAW seperti para sahabat. Pada zaman itu, kendaraan belum beraneka modelnya. Unta merupakan alat transportasi yang umumnya digunakan sehingga terdapat anjuran memberikan kesempatan kepada unta tersebut untuk merumput terlebih dahulu ketika melewati tempat yang terdapat hamparan rumput dengan tujuan menambah stamina dan cadangan makanan pada unta.
Selain itu, jika ternyata tempat yang dilewati berupa area tandus maka jangan berhenti berlama–lama agar unta yang ditunggangi tidak kehabisan tenaga dan mendatangkan dampak buruk bagi kesehatannya. Jika diselaraskan di zaman ini, mungkin kita dianjurkan menyiapkan uang transportasi jika memang transportasi umum atau mengisi bahan bakar mesin jika menggunakan kendaraan pribad. Kemudian, untuk kita sebagai musafir atau orang yang melakukan perjalanan/bepergian terdapat hal–hal yang mesti diperhatikan yakni jangan membuat tempat beristirahat seperti tenda kemah di tengah jalan ketika melakukan perjalanan malam hari karena berpotensi membahayakan diri kita dan mengganggu jalan yang biasa dilalui oleh binatang.
Setelah cukup memahami makna hadits di atas, berikut ini adalah etika lainnya yang dilakukan sebelum dan pada saat bepergian/menempuh perjalanan:
Berkomunikasi dengan Orang Terdekat
Orang terdekat bisa dimaknai luas. Keluarga, sahabat, pasangan, tetangga (jika dirasa perlu) merupakan beberapa contohnya. Hal ini bertujuan agar mereka tidak khawatir dan bertanya–tanya pada saat kita tidak ada kabar dikarenakan tidak memungkinkan atau terkendala memberi kabar pada saat bepergian/menempuh perjalanan. Selain itu, do’a dari mereka pun menjadi salah satu washilah kita diberi kelancaran dan keselamatan.
Menjamak dan Mengqosor Sholat
Hal ini dilakukan jika perjalanan kita mencapai jarak yang sudah ditentukan oleh ilmu fikih. Menjamak sholat berarti menggabungkan dua sholat fardhu dalam satu waktu tanpa mengurangi jumlah raka’atnya. Adapun aturannya yakni sholat dhuhur dengan sholat ashar dan sholat magrib dengan sholat. Mengqasar sholat berarti meringkas jumlah raka’at sholat. Adapun sholat yang bisa diringkas yakni sholat dhuhur 4 rakaat menjadi 2 rakaat, sholat ashar 4 rakaat menjadi 2 rakaat dan sholat isya 4 rakaat menjadi 2 rakaat.
Membaca Do’a
Membiasakan untuk membaca doa sebelum, pada saat dan setelah bepergian atau melakukan perjalanan. Apapun yang menimpa kita terutama bahaya maka hal yang paling penting yakni meminta perlindungan dan keselamatan kepada Alloh SWT.
Penutup
Allah SWT senantiasa sangat mencintai hambanya, sehingga kita perlu untuk memperhatikan ajaran-ajaran yang telah allah sampaikan. Baik melalui ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadist yang disampaikan rasulullah saw. Dalam etika bepergian, islam mengajarkan beberapa hal penting dan utama untuk diperhatikan dan dilakukan selama bepergian. Anjuran ini semata-mata demi kebaikan kita sebagai manusia yang menjalankannya, juga menjadi nilai ibadah dan pahala dimata Allah SWT.






