Di zaman sekarang, peran teknologi digital sudah memasuki berbagai ranah kehidupan manusia. informasi, gaya hidup, tips mempraktikkan sesuatu dengan mudah dapat diakses dimanapun dan kapanpun. Begitu juga halnya dengan ibadah, arah kiblat misalnya. Namun tahukah anda penentuan arah kiblat pada zaman Nabi Muhammad SAW belum tersentuh teknologi digital. Lalu bagaimana dengan orang – orang pada zaman tersebut ketika akan menentukan arah kiblat? Tentunya terdapat panduan yang tak kalah akurat dengan hasil teknologi digital pada zaman sekarang. Nabi Muhammad SAW dengan risalah kerasulannya membuat umat muslim tetap melaksanakan ibadah sholat berdasarkan waktu sholat dengan sebaik-baiknya.
Dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi SAW bersabda, “ Waktu dzuhur ialah jika matahari telah condong ( ke arah barat ) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba ; dan waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning ; waktu Maghrib selama awan merah belum menghilang ; waktu sholat isya hingga tengah malam ; dan waktu sholat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga sebelum matahari terbit.” ( Diriwayatkan oleh Muslim )
Penjelasan waktu sholat dalam kitab Bulughul Maram
Waktu Sholat Dzuhur
Dimulai ketika matahari tergelincir atau lebih condong ke sebelah barat. Hal ini ditandai dengan bayangan suatu benda sama dengan wujud aslinya. Adapun waktu berakhirnya yaitu pada saat bayangan suatu benda lebih panjang daripada wujud aslinya. Pada dasarnya, setiap wilayah di dunia ini mempunyai waktu dhuhur yang berbeda. Hal ini dikarenakan letak geografis yang mempengaruhi pergerakan matahari.
Waktu Sholat Ashar
Dimulai ketika bayangan suatu benda lebih panjang dibandingkan wujud aslinya. Pada dasarnya, setiap mazhab mempunyai metode penentuan yang sedikit berbeda. Namun yang paling umum adalah metode perhitungan berdasarkan panjang bayangan, misalnya jika sebuah tiang dengan panjang 1 meter kemudian ditancapkan dan panjang bayangannya 2 meter maka hal tersebut menandakan telah masuk waktunya. Adapun akhir waktu ashar yaitu terbenamnya matahari.
Waktu Sholat Maghrib
Dimulai dengan terbenamnya matahari sampai awan merah di langit menghilang. Waktu maghrib relatif singkat, maka dari itu kita harus menggunakan dengan sebaik-baiknya agar ibadah yang dilakukan senantiasa diterima dan menjadi amal terbaik di sisi Alloh SWT. Walaupun waktunya relatif singkat, namun kita tetap bisa melaksanakan berbagai jenis ibadah seperti sholat shunnah qobla maghrib, sholat maghrib, berdzikir, sholat shunnah ba’da Maghrib, tadarus al–qur’an, dan sebagainya
Waktu Sholat Isya
Dimulai ketika awan atau mega merah menghilang hingga tengah malam atau sebagian para ulama berpendapat waktu isya berakhir sebelum fajar terbit. Selain itu, sholat isya boleh diakhirkan ketika posisi kita sedang tanggung mencari ilmu. Waktu isya merupakan yang terpanjang diantara lima sholat fardhu. Namun walaupun demikian, jika kita tidak sedang benar–benar sibuk mencari ilmu sebaiknya sholat isya disegerakan dalam pelaksanaannya.
Waktu Sholat Shubuh
Dimulai ketika terbit fajar atau berakhirnya waktu qiyamul lail ( ibadah yang dilakukan di malam hari ) sampai terbit matahari. Shubuh menempati urutan kedua setelah waktu maghrib jika dilihat berdasarkan durasi waktunya. Selain itu, waktu shubuh membuat malas bangun tidur bagi orang – orang yang belum terbiasa mengerjakan. Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa istiqomah mengerjakan sholat fardhu agar kelak menjadi hamba yang meraih ridhonya terutama dalam menyongsong kehidupan di alam akhirat yang abadi.






