Our Blog

Ar-Raudhoh-Wirdhul-Latif

Wirdhul Latif: Lantunan Dzikir Penenang Hati

Ada pepatah yang mengatakan bahwa setiap dari kita tak pernah menetap dalam satu keadaan. Ya, dalam keadaan lebih maupun kurang, tentunya allah senantiasa menguji keimanan kita. Salah satu tempat bersemayamnya keimanan yakni berada di dalam hati. Ia tak nampak secara lahir namun segala rasa bermuara di sana. Rasa tersebut sangat berpengaruh pada naik atau turunnya keimanan seseorang. Rasa gelisah menjadi salah satu karakteristik lemahnya iman seseorang walaupun diakui sifat manusiawi jika tidak menimbulkan dampak negatif yang besar. Pondok Yatim dan Dhuafa Ar-Raudhoh melalui program pembiasaan lantunan dzikir senantiasa membiasakan diri santri dalam mengelola hati agar tetap stabil dalam setiap keadaan yang dihadapi dalam hidup ini. Lantunan dzikir ini bernama Wirdhul Latif.

Memaknai Dzikir Wirdhul Latif

Dzikir ini disusun oleh seorang ulama sholeh yang bernama Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad. Ia lahir sekitar tahun 1634 Masehi dan wafat pada tahun 1720 Masehi. Beliau berasal dan tinggal di Hadramaut, negeri Yaman. Dzikir ini menyebar luas oleh para muridnya (para ulama yang lain) serta para habaib. Adapun wilayah cakupannya meliputi benua Afrika, Jazirah arab serta Asia Tenggara termasuk negara Indonesia. Widhul Latif tersusun dari ayat-ayat Al-qur’an dan Hadits–hadits Nabi Muhammad SAW. Kata Wirdhul Latif bermakna dzikir yang lafaz-lafadznya bersifat ringan atau mudah di hafalan serta diharapkan menjadi washilah dilembutkannya hati para santri.

Susunan Dzikir Wirdhul Latif

  1. Diawali dengan pembacaan tawashul  dan lantunan surat Al-Faatihah sebanyak 1 kali untuk Baginda Rasulullah SAW beserta keluarga & sahabatnya, tokoh penyusun dzikir Wirdhul Latif  serta para kaum muslimin.
  2. Pembacaan surat Al-Ikhlas sebanyak 3 kali yang bermakna pengakuan dan kesaksian dzat Allah SWT yang maha mengabulkan segala permintaan setiap makhluk.
  3. Pembacaan surat Al–Falaq sebanyak 3 kali yang bermakna hanya kepada Allah SWT berlindung dari kejahatan khususnya dalam suasana gelap. Selain itu, pembacaan surat Al–Falaq ini menjadi washilah perlindungan dari kejahatan di waktu shubuh (merujuk pada arti surat tersebut).
  4. Surat An-Naas sebanyak 3 kali. Bermakna memohon perlindungan dari kejahatan yang bersangkutan dengan manusia baik dari perilaku fisik maupun ikhtiar bathin yang jahat.
  5.  Istighfar sebanyak 3 kali, bermakna memohon ampunan kepada Allah SWT dari dosa kecil maupun dosa besar.
  6. Lantunan kalimat – kalimat tauhid dan pengakuan nikmat Allah SWT, dibaca sebanyak 3 kali. Bermakna pengakuan kemurnian tunggalnya dzat Allah SWT serta ungkapan syukur atas nikmat yang dilimpahkan oleh Allah SWT.
  7. Lantunan ayat–ayat perlindungan. Meliputi ayat kursi (surat Al-Baqarah ayat 255) sebanyak 3 kali, dua ayat terakhir surat Al-Baqarah (ayat 284-286) sebanyak 1 kali, serta ayat–ayat Al-qur’an lainnya yang bermakna sepenuhnya menyerahkan serta memohon perlindungan kepada Allah SWT.
  8. Do’a penutup, dalam tahap ini semua keinginan kita dipanjatkan kepada Allah SWT.

Sebelum dzikir Wirdhul Latif dilantunkan, alangkah baiknya dipersiapkan air minum mineral yang berfungsi sebagai media untuk meraih nilai manfaat dari dzikir ini. Air minum mineral ini disimpan dengan posisi di depan barisan para santri pada saat dzikir Wirdhul Latif dilantunkan. Setelah selesai dilantunkan, air tersebut boleh dikonsumsi dengan cara nikmati langsung atau dicampur dengan air lainnya seperti air di bak mandi. Cara ini telah lama digunakan agar tubuh merespon nilai manfaat dzikir Wirdhul Latif dengan baik.

Post A Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *